riaNgembira

menebar aroma suka dan melindap duka lara

Sandra Dewi nan Aktif

Kata temen saya, intensitas posting tulisan saya masih kalah dengan Sandra Dewi. Katanya, ia bisa menulis sehari sampai lima kali! Saya cuma bisa takjub saat itu. Setelah saya googling websitenya, alhasil saya menemukan yang dimaksud, http://sandradewi.seleb.tv. Memang sih, untuk ukuran new comer, ia bisa dibilang sukses. Banyak komentar dari beberapa postingannya. Tapi ya itu…postingannya berisi aktivitas kesehariannya yang diulang. Misalnya, besok dia akan menjadi bintang tamu acara masak di salah satu tv. Posting pertama informasinya ia akan menjadi bintang tamu acara masak. Posting berikutnya, ia mau menamai masakannya xxx. Posting ketiga ajakan untuk tidak melupakan acara tersebut. Posting keempat, ia tengah siap-siap persiapan acara itu. Posting terakhir, tanggapan dia sendiri paska acara itu. Alah…ya mesti ae ta, Dhenk…sampek ping limo! Tapi salut untuk intensitasnya itu sih. Untung dia selebritis. Coba kalau saya yang nulis begitu, sapa sih loe?! Wakakak…

May 14th, 2008 Posted by happy | Diary | one comment

Dunia Sepi Tanpa Alat Bantu Dengar

Dunia saya menjadi sepi tatkala saya melepas alat bantu dengar saya. Betul, saya adalah orang yang disebut punya kebutuhan khusus. Kebetulan kebutuhan itu adalah gangguan pendengaran (hearing loss). Orang-orang suka gemes dan geregetan jika saya dipanggil-panggil tidak juga menengokkan kepala. Bahkan ada yang saking geramnya berteriak di telinga saya sembari berganti mendiktekan kalimatnya tepat di muka saya. Hahaha…
Sebenarnya saya tidak pernah menginginkan ini terjadi. Saya sedih dan bahkan pernah mengutuki diri kenapa saya mendapat derita (halah, kayak apa aja hehe) ini. Betul, gangguan semacam ini menyiksa bahkan menghilangkan kepercayaan diri saya.
Awal saya menyadari (dengan sesadar-sadarnya) sejak 3 tahun silam. Tapi sebenernya sejak tahun 2002, saya pernah mengalami kejadian yang (akhirnya) membuat saya trauma tampil di depan publik. Waktu itu saya didaulat menjadi moderator acara yang diadakan oleh himpunan mahasiswa jurusan saya. Singkat kata akhirnya saya mau. Awal acara sangat lancar. Di tengah acara, microphone yang diperdengarkan dengan keras via toa macet. Awalnya tidak masalah sampai saat sesi tanya jawab. Kalimat para penanya sayup terdengar. Saya semakin stres padahal sekuat tenaga saya memperkeras usaha otak dan telinga saya untuk mendengar. Kondisi ini diperparah dengan kondisi gedung yang tidak memungkinkan mendengar suara tanpa pengeras. Di samping luas, jendela-jendela turut menghiasi ruangan itu. Sampai akhirnya, seorang penanya protes karena saya tidak bisa menghentikan (sebut saja: menguasai forum kembali). Duh Gusti…Dalam hati rasanya pengin nangis. Itu debut kemunculan saya di depan publik Malang yang agak luas. Antara malu dan marah (pada diri sendiri), saya berusaha sekuat tenaga membiarkan diri menerima apa saja. Saya kalut sekali.
Akhirnya, saya hanya bisa minta maaf pada penyelenggara (yang teman saya dan ia pun tak kalah minta maaf karena tidak menyediakan fasilitas yang layak) dan juga pada mereka yang diundang jadi pembicara. Saya belajar banyak atas kejadian itu. Tak kalah pentingnya, saya mulai mengenal banyak orang terkenal di Malang seperti Ratna Indraswari Ibrahim. Mungkin sejak kejadian itu, Mbak Ratna (panggilan Ratna IB) mengenal saya hingga menjadi relasi intim hingga sekarang.
Kembali pada hearing loss yang menemani hidup saya, proses (yang kemudian saya akui) panjang saya jalani untuk menerimanya. Tidak mudah memang untuk hidup “normal” dengan “ketidaknormalan” ini. Bagi mereka yang memahami, (akhirnya) mampu membantu saya menjalani hidup “apa adanya”. Tanpa perkataan atau perbuatan rasis (atau apa yan penggunaan kata yang pas untuk ini?) atas kekurangan saya ini. Hal seperti ini yang kadang tidak bisa saya terima. Tapi apa daya, saya hanya bisa menerima hal itu dengan “biasa saja”: tak perlu marah dan sakit hati. Toh, mereka tidak pernah menjadi saya (dan kalau bisa jangan sampai deh…). Tapi kalau dulu-dulu, rasanya saya pengen tampar, pukul, tendang, atau apa aja lah untuk menunjukkan bahwa saya tersinggung atas ketidakmendengaran saya ini. Hahaha…
Biar begitu, saya kadang merasa damai. Betapa sepi dan tenang hidup saya, saat saya mematikan (manual) alat bantu dengar (ABD) saya di saat saya memang memerlukannya. Mungkin bagi orang normal, pada saat ingin tenang, sebaik apa pun mereka menutup telinga, mungkin saja masih ada suara yang berhasil nylonong. Hehehe…
Dengan melepas ABD saya, saya tak lagi mendengar deru laptop atau komputer dan denging sanyo air. Paling tidak, riuh rendah teriakan dan tawa mereka yang tengah bercanda sembari sesekali ledakan tawa renyah nan menggelegar tak terlalu ampuh mengganggu konsentrasi. Tapi, kalau ada yang tiba-tiba teriak memanggil saya atau dering hp yang berkaing-kaing saat saya tak sedang memakainya, maafkan saya ya….Hahaha…

May 13th, 2008 Posted by happy | EmoStory | no comments

Page Rank: 3/10

Page rank saya sekarang menunjukkan 3/10. Kata si om Seful yang ahli, angka di depannya menunjukkan seberapa sering website kita diakses. Sekarang saya cuma sedang senyum-senyum. Soalnya saya senang meski sekaligus dalam hati bertanya-tanya. Biar kelihatan sepi, ternyata diam-diam ada orang yang nyasar dan mampir di website ini. Tapi ini beneran ga sih? Jangan-jangan page rank di google toolbar saya yang salah?
Diem dulu ah…  :)

May 13th, 2008 Posted by happy | Diary | no comments

Maafkan saya, Sahabat…

:(semacam) testimonial

Ternyata idiom ‘menjadi dewasa itu pilihan’ tepat berlaku bagi saya. Dalam sebuah rapat terakhir bersama komunitas karib, saya belajar banyak hal. Memang sulit untuk memisahkan antara batasan komunitas dan lembaga formal. Pun pertemanan dan berperikehidupan organisasi. Bahkan atas dasar pertemanan, kadang kita tidak bisa menjadi diri sendiri. Posisinya menjadi rawan. Alih-alih menyelamatkan komunitas justru malah berpotensi menyimpan bara dalam sekam.
Saya pun mengalami posisi sulit ini. Ketika saya ingin memikirkan diri sendiri (mungkin ini menjadi bagian perlindungan diri alami dari setiap manusia), di hadapan saya ada banyak orang dengan berbagai keinginan dan harapan yg ‘dinaungi’ oleh komunitas. Berbagai argumen dilontarkan bahkan (menurut saya) berulang-ulang. Sangat melelahkan secara fisik dan psikis. Waktu hampir menunjukkan pukul 1.30 dan perbincangan sangat alot dan lama. Saya tahu, semua berhati-hati menangani hal ini.
Tapi, saya (tengah) lelah. Bahkan dalam pikiran saya terus bergayut berbagai hal yang belum selesai. Saya merasa forum tidak berniat untuk menghasilkan keputusan bersama kendati semua mengarah pada hal yg sepertinya sama. Saya menghentak laksana mengganggu mereka yg tengah ereksi yang hampir mendekati klimaks!
Hmf, saya minta maaf pada semua yang merasa terganggu di malam itu. Sungguh, kejadian itu masih terngiang dan menari begitu jelas di mata saya.

April 25th, 2008 Posted by happy | EmoStory | one comment

Lama tidak Bersua

Hallo semua….
Maafkan atas ketidakkonsistenan saya dalam mengelola situs ini. Harus diakui bahwa rutinitas telah membuat saya jauh dari refleksi diri. Termasuk menulis. Tidak menulis sekian lama membuat saya buntu. Pikiran saya bebal dan hati saya keras. Menulis apa saja dengan kondisi bagaimanapun sebenarnya jauh lebih baik ketimbang tidak jadi posting karena takut dikritik dan dikomentari. Itulah kepicikan hati saya beberapa saat ini.
Untunglah ada suara-suara seperti in: “ Ayolah, Hep…nulis lagi. Saya kangen ngasih komentar!” hahaha….padahal suara seperti ini yang tidak ditunggu. Habis komentarnya kadang bikin keder sih…
Selamat membaca kembali dan silakan meninggalkan komentar di sini. Apapun itu. Terima kasih.

April 23rd, 2008 Posted by happy | Diary | no comments

Uban di Kepala Saya

Kemarin dulu saya menemukan (lagi) dua helai uban di perbatasan dahi dan kulit kepala. Alangkah sedih hati saya demi melihat kejadian ini. Benak saya langsung berkata bahwa saya sudah tua alias berumur. Kata si X: “Wes wayahe rabi iku…” Ada lagi yang bilang: “Koen iki pancen wes tuwek!”

Ah…apa iya? Apa sih menjadi tua itu? Kata iklan A Mild: menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan. Jangan-jangan saya cuma bertambah usia alias jadi tua semata. Jangan-jangan saya, meski berumur, tidak pernah dewasa dalam segala hal?

Bukan menjadi tuanya yang bikin tidak sreg di hati. Atau ada uban yang nantinya bikin penampilan (semakin) tidak menarik. Saya hanya mikir, sepanjang hidup saya, apakah yang sudah sudah saya lakukan ini telah berguna buat orang lain dan diri saya sendiri tentunya. Saya masih suka ugal-ugalan menjalani hidup. Meski begitu sejauh ini saya masih mensyukuri hidup ini.

Kalau sampeyan mulai beruban, apa yang (akan/telah) yang terlintas di benak?

April 23rd, 2008 Posted by happy | Diary | no comments

Februari - Beralih Usia

Hari ini saya lalui dengan selamat. Teman-teman di sini tidak ada yang tahu kalau hari ini adalah hari yang mereka nanti. Yakni hari seperti halnya Bung Toms yang kena telor, tepung, dan minyak!

Haha…sampai detik ini setidaknya saya aman. Sebelum berangkat, saya sempat ketar-ketir. Takut dikerjain! Soalnya pas kejadian Bung Toms itu, sempet ada yang nyeletuk: “Habis ini kamu, Pi…!” Hiy…bergidig mendengarnya.

Ingatan saya melayang pada beberapa tahun lalu. Sekitar tahun 2003, dikerjain teman-teman DIANNS. Singkatnya, setelah rapat redaksi, mereka mengguyurku dengan seember air bekas cucian (mungkin) alat makan di warung soto Yoyok! Mereka pintar ngerjain. Semalam saya ditinggal di Dianns sendiri til! Seharian juga dicuekin. Tapi saya biasa saja meski merasa agak merasa aneh. Setelah itu, basah semua deh…termasuk HP yang baru dipakai setahun. huhu…

Makanya, gara-gara kejadian itu, saya agak trauma nih…takut kejadian seperti itu merusak properti pribadi lainnya. Sulit kalo mau ganti kan…:)

So, sekarang saya merasa bahagia. Meski tanpa lilin dan kue, kado, atau ucapan yang biasanya banyak nyangkut di HP. Tahun ini memang sepi yang ngasih ucapan. Meskipun ada Dani SMP yang pertama kali ngucapin selamat via SMS menjelang tengah malam kurang 9 menit! :) dan Diannskru yang dikomandani Marxfur. “Kapan traktirannya?” tanya mereka via Marxfur. Dan makasih juga untuk beberapa teman yang masih menyempatkan diri memberi ucapan selamat via pesan di Friendster.

Meski tidak banyak teman yang inget hari ini dibanding saat bersama dulu, bagi saya sekarang hal seperti ini kini tidak penting. Yang penting saya sekarang berada bersama teman-teman yang (saya yakin) mencintai saya dengan cara mereka sendiri. Terlebih lagi bagi saya sekarang minimal saya tahu mau ngapain ke depan dengan sisa usia ini. Menengok ke belakang rasanya tidak ingin. Banyak hal yang perlu ditinggalkan selagi enengi untuk memperbaiki diri menggebu.

So, happy birthday, Happy…! Wish me luck! ;)

February 25th, 2008 Posted by happy | Diary | 2 comments

Februari - Detik-detik Beralih Usia I

FEBRUARI tahun ini adalah bulan yang penuh makna dan sarat kebahagiaan. Beberapa yang saya dapat di bulan ini (akhirnya) saya jadi juga punya notebook, partner saya lulus, dan saya bertambah (atau berkurang) usia.

Beberapa hari lagi saya tambah (asli, bingung! apa berkurang sih?) usia. Jadi semakin tua yang idealnya semakin matang, berani menghadapi hidup, jujur, dan bertaqwa kepada-Nya…

February 22nd, 2008 Posted by happy | EmoStory | no comments

Februari – Partner saya Lulus

FEBRUARI tahun ini adalah bulan yang penuh makna dan sarat kebahagiaan. Beberapa yang saya dapat di bulan ini (akhirnya) saya jadi juga punya notebook, partner saya lulus, dan saya bertambah (atau berkurang) usia.

 

Alhamdulillah, Kamis kemarin partner saya lulus. 5,5 tahun dia berjuang demi selembar kertas (ijazah) dan predikat sarjana. Banyak hal yang telah dilewati. Kesabaran dan ketabahan saya sebagai pasangan memang diuji. Tidak banyak yang bisa saya lakukan selain menyuruhnya untuk segera lulus. Agar ia lebih bisa mencapai cita-citanya selama ini tentunya.

Predikat mahasiswa dahulu memang sakti. Bisa laku untuk banyak hal. Prestisnya tinggi. Mahasiswa dikenal begitu karena ia dikira intelek sekaligus memperjuangkan nasib rakyat banyak. Padanya saya sering berkata agar segera saja lulus daripada memperkaya universitas yang semakin seperti pemroduksi robot. Ia tidak mau lulus cepat demi skripsi yang ia ingin buat dengan maksimal.

Sudahlah, itu hal yang lalu. Yang penting sekarang adalah bagaimana paska kelulusan ini. Karena sesungguhnya dunia nyata –yang kadang kejam dan tragis- baru saja dimulai. Selamat datang……

February 22nd, 2008 Posted by happy | Diary | no comments

Februari - BYON

FEBRUARI tahun ini bagi saya adalah bulan yang penuh makna dan sarat kebahagiaan. Beberapa yang saya dapat di bulan ini (akhirnya) saya jadi juga punya notebook, partner saya lulus, dan saya bertambah (atau berkurang) usia. Alhamdulillahirobbil ‘alamin…

 

Notebook ini BYON M31F G/S – 8 dengan prosesor Intel Pentium Dual Core T2330/1,6 GHz; Chipset Intel 965 GM; Graphics Intel GMA X3100; Wireless Wifi 3945 B/G; LCD 14” Wide Glare; Memory 1 G DDR2; HD 80 GB 5400 rpm; dan Oprical drive DVD RW Super-Multi. Untuk sekelas saya yang paling banter ber-MS Word atau menggunakan keluarga Microsoft Office sembari mendengarkan musik atau sesekali nonton film, notebook ini lebih dari cukup. Apalagi tampilan bodinya lumayan membedakan dengan lainnya. Kamera 2.0 mega pixelsnya pun membantu saya untuk semakin narsis plus speaker-phone built in yang bisa saya gunakan untuk berlatih speaking English. Tambahan lain yang nempel di bodi notebook ini 4 USB port dan IEEE 1934. Untuk yang disebut terakhir, ada ga yang tahu lubang itu buat apa?

February 22nd, 2008 Posted by happy | Diary | 7 comments